3 Motif yang Jadi Ciri Khas Karpet Eropa

Karpet lantai dengan motif yang indah kerap digunakan sebagai center of point sebuah ruangan.  Tak jarang pengunjung terkagum-kagum pada suasana interior yang dihasilkan oleh sebuah karpet/permadani.  Apalagi jika motifnya sangat cantik dan bertekstur lembut serta tebal.

Sejak lama karpet telah menjadi barang mewah bagi kalangan atas. Sebab harga karpet yang mahal, tak jarang banyak saudagar kaya dan kolektor seni berburu karpet dengan motif-motif yang mengesankan.  Ruangan berkarpet dahulu lebih identik dengan istana raja ataupun rumah bangsawan.  Namun seiring perkembangan jaman, penggunaan karpet telah meluas ke dalam kehidupan masyarakat.

Karpet motif eropa biasa digunakan pada rumah bertema klasik.  Di Indonesia, motif yang menjadi ciri khas tak hanya tampil dalam karpet lantai.  Tetapi juga kain batik yang disebut dengan batik eropa.  Terdapat dua kesamaan dari keduanya sebab dipengaruhi oleh unsur budaya yang sama.

Tiga Ciri Khas Motif Eropa

Berikut ini adalah tiga motif yang kerap ditemukan pada karpet dan aksesori lain bertemakan eropa.  Ketiganya merupakan bentuk asimilasi budaya yang berasal dari Cina, India, dan Timur Tengah.  Biasanya ketiga motif ini bisa kamu temukan di beberapa toko karpet lantai yang menjual karpet eropa.

1. Motif Floral

Motif floral adalah motif yang menampilkan hiasan berbentuk tumbuhan dan bunga.  Ragam hias floral memang paling umum ditemukan, terutama bentuk tumbuhan berupa sulur (tumbuhan menjalar) yang membentuk sebuah pola.  Biasanya pola yang dibentuk adalah simetris.  Pola simetris tak hanya bisa diterapkan pada karpet berbentuk persegi, tetapi juga karpet lantai berbentuk bundar.

Mulanya, motif floral digunakan oleh bangsa Asia yang melambangkan keanggunan.  Aktivitas perdagangan membuat menyebabkan motif ini digemari oleh masyarakat Eropa sehingga mereka berinisiatif untuk memproduksi motif floral.  Pada abad ke-19, motif floral yang diproduksi oleh negara Cina dan Jepang berhadil menarik perhatian para seniman Eropa.  Khususnya yang beraliran impresionis.  Hingga akhirnya motif floral marak digunakan oleh bangsa Eropa pada masa Perang Dunia ke-II.

Sebelumnya, pada abad ke-18 Turki telah memiliki beberapa pusat anyam karpet yang banyak menampilkan motif floral, yaitu bentuk sulur memutar, bunga dan dedaunan seperti tulip, anyelir, dan eceng gondok.  Motif-motif ini ditenun dengan menggunakan gaya naturalistik dan menjadi komposisi dasar karpet.

2. Motif Hewan

Karpet Motif Hewan

Karpet Turki telah dikenal sejak abaf ke-13.  Sebelum pengaruh ajaran Islam berkembang, motif yang sering muncul di dalam karpet adalah motif-motif hewan. Kala itu karpet dikenal dengan sebutan Permadani dengan Hewan.

Demikian pula dengan peradaban di Eropa Utara, para seniman melukis motif yang banyak diterapkan pada karpet berupa motif hewan.  Dua diantaranya adalah lukisan “Madonna and Child with Saints” karya Stefano de Giovanni dan “The Marriage of The Virgin” karya Nicolo of Buonaccorso (1348-1388).

Akhirnya motif hewan mulai dikenal masyarakat sejak abad ke-14 dan masih banyak ditemukan pada abad ke-15.  Namun kini karpet motif hewan semakin jarang digunakan sebab terdapat larangan menampilkan makhluk hidup di dalam ajaran Islam.

3. Motif Geometri

Motif ciri khas eropa yang juga masih eksis hingga saat ini adalah motif geometri bergaris.  Motif ini digunakan sebagai solusi alternatif sebab larangan bagi umat muslim menggunakan motif hewan.  Motif geometri sangat identik dengan kesan klasik apalagi jika warna karpet yang digunakan adalah warna-warna tanah seperti krem atau coklat tua.  Jika kamu tidak menyukai motif floral dna hewan, coba saja cek harga karpet untuk lantai dengan motif geometri di berbagai toko karpet online.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *